Diversifikasi Mahkota Dewa sebagai Bahan Baku Pesnab

Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dikenal sebagai salah satu tanaman obat asli Indonesia yang berasal dari Papua. Ukuran tanaman tidak terlalu besar dengan tinggi bisa mencapai 4 meter. Mahkota dewa merupakan tanaman tahunan dan banyak dibudidayakan masyarakat sebagai tanaman peneduh atau sebagai tanaman hias di pekarangan.

 

Gambar Tanaman mahkota dewa yang sedang berbunga dan berbuah

Struktur batang mahkota dewa bergetah terdiri dari kulit batang yang berwarna coklat kehijauan dan batang kayu yang berwarna putih. Daun mahkota dewa berbentuk lonjong/memanjang, langsing, ujungnya berbentuk runcing dengan tepi daun rata dan permukaan daun licin tidak berbulu.

Bunga mahkota dewa berwarna putih dan berbau harum berukuran kecil menyerupai bunga cengkih. Buah tumbuh sepanjang batang utama hingga ke ranting-ranting tanaman, berbentuk bulat dengan ukuran bervariasi. Buah berbentuk bulat berdiameter 3-5cm dengan permukaan licin dan beralur terdiri dari kulit, daging, cangkang dan biji.

Kulit buah muda berwarna hijau, sedangkan yang sudah tua berwarna merah menyala (Gambar 1.). Daging buah berwarna putih, berserat dan berair. Cangkang buah merupakan kulit dari biji dan terasa keras. Biji berbentuk bulat lonjong berdiameter sekitar 1cm dan berwarna coklat, bagian dalam berwarna putih.

Manfaat buah mahkota dewa dalam kesehatan

Mahkota Dewa sudah lama digunakan oleh para bangsawan Jawa sebagai tanaman obat. Di Jawa Tengah tanaman ini dikenal dengan nama Makuto Dewo dan dahulu hanya bisa dijumpai di lingkungan Keraton Jogja dan Solo.

Buah mahkota dewa mengandung berbagai senyawa yang dapat dipergunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti kanker, kolesterol tinggi, anti alergi, jantung, kencing manis dan antiradang. Senyawa yang paling berperan dipergunakan sebagai bahan obat herbal adalah alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin.

Alkaloid termasuk dalam golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan berperan mengurangi kadar racun di dalam tubuh (bersifat detoksifikasi) melalui proses penyerapan, distribusi, biotransformasi dan ekskresi molekul toksin.

Flavonoid berperan untuk melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh, mencegah penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan kolesterol dan penimbunan lemak pada dinding pembuluh darah, mengurangi risiko penyakit jantung koroner, mengandung antiinflamasi (antiradang), berfungsi sebagai anti-oksidan, membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan.

Polifenol berfungsi sebagai anti histamin (antialergi). Saponin bermanfaat sebagai anti bakteri dan anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas tubuh, mengurangi kadar gula dalam darah, dan mengurangi penggumpalan darah.

Untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat alami buah mahkota dewa perlu diolah dilakukan sebagai berikut. Pertama-tama daging buah dipisahkan dengan bagian bijinya yang diketahui sangat beracun.

Daging buah selanjutnya diiris tipis-tipis dengan ketebalan sekitar 1-2 mm lalu dikering anginkan hingga kadar air mencapai sekitar 10-12%. Daging buah yang telah kering siap dipergunakan sebagai obat dengan merebus secukupnya di dalam air mendidih dan setelah dingin air rebusan diminum.

Manfaat biji mahkota dewa sebagai bahan pestisida nabati

Biji mahkota dewa merupakan bagian tanaman yang paling beracun. Kandungan utama biji mahkota dewa adalah saponin. Senyawa ini telah diteliti dan diketahui efektif untuk mengendalikan keong mas yang merupakan salah satu hama utama tanaman padi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji mahkota dewa ternyata lebih efektif dari ekstrak rerak jika dipergunakan sebagai moluskisida nabati. Hal ini mungkin disebabkan kandungan saponin pada ekstrak biji mahkota dewa lebih tinggi dari kandungan saponin pada ekstrak biji rerak. Namun demikian asumsi ini masih perlu dikaji lebih lanjut.

Di samping bersifat moluskisidal saponin juga dilaporkan bersifat fungisidal, bakterisidal, dan antiviral. Oleh karena itu penggunaan pestisida nabati berbahan aktif ekstrak biji mahkota dewa selain dapat dipergunakan untuk mengendalikan serangan keong mas diharapkan juga dapat mengendalikan OPT lainnya pada tanaman padi.

Pestisida nabati berbahan aktif ekstrak biji mahkota dewa dapat dibuat dengan cara menggiling 100 gr biji mahkota dewa hingga halus. Biji yang telah hancur kemudian direndam di dalam 250 ml air selama 24 jam kemudian disaring dengan kain halus sehingga pada saat disemprotkan tidak menyumbat nozel penyemprot. Selanjutnya ke dalam air saringan ditambahkan 50 ml minyak tanah/solar dan 5-10 gr sabun colek kemudian diaduk hingga homogen. Formula selanjutnya dilarutkan ke dalam 10 liter air lalu siap dipergunakan.

Pemanfaatan pestisida nabati secara umum memberikan prospek yang cukup menjanjikan. Hal ini ada kaitannya dengan proses pembuatannya tidak membutuhkan tehnologi tinggi sedang bahan aktifnya mudah terurai (bio-degradable) sehingga relatif kurang berbahaya bagi kehidupan.

Pestisida nabati juga memiliki pengaruh cepat dalam menghambat nafsu makan serangga sehingga dapat menekan kerusakan tanaman. Keunggulan lainnya bahwa pestisida nabati biasanya memiliki spectrum pengendalian yang luas dan dapat diandalkan digunakan untuk mengendalikan hama yang telah resisten terhadap insektisida sintetis. Karena tingkat toksisitasnya terhadap mamalia relatif rendah maka pestisida ini aman bagi manusia dan mahluk hidup berguna lainnya. (Wiratno/Peneliti Puslitbang Perkebunan).

Info terkait klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *