Pengembangan Formula Nano Biopestisida Berbahan Utama Seraiwangi di Tingkat Petani Kakao

BERITA PERKEBUNAN – Kegiatan kerjasama Penelitian KP4S mengenai pengendalian penyakit pembuluh kayu/mati pucuk atau yang sering disebut Vascular Streak Die-back (VSD) pada tanaman kakao yang dilakukan antara LPPM Universitas Andalas dan Balitbangtan telah dilakukan sejak tahun 2016 sampai tahun 2018. Balitbangtan yang diwakili oleh peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Dr. Rita Noveriza […]

Continue Reading

Teknologi Perbanyakan Kakao Melalui Induksi Embriogenesis Somatik Sekunder

INFO TEKNOLOGI PERKEBUNAN – Induksi embriogenesis somatik sekunder dimaksudkan untuk meningkatkan faktor multiplikasi, yang dilakukan menggunakan eksplan kotiledon dari embrio somatik primer. Hasil penelitian menunjukkkan, perbanyakan malalui embrio somatik sekunder pada kakao dapat meningkaktan faktor multiplikasi sebesar 8 – 37 kali dibanding melalui embrio somatik primer, tergantung genotype.

Continue Reading

Potensi Biomassa Limbah Kakao dan Kopi sebagai Sumber Energi Alternatif Biohidrogen

INFO TEKNOLOGI – Limbah perkebunan kopi dan kakao dapat dikonversi menjadi glukosa. Untuk setiap pengolahan 100 kg buah kopi akan dihasilkan 15,95 kg (55%) biji kopi dan 13,05 kG (45%) kulit gelondong kering. Kulit gelondong kering terdiri dari kulit cangkang, lendir, dan kulit buah dengan perbandingan 11,9 : 4,9 : 28,7. Kandungan kulit gelondong kering […]

Continue Reading

Manfaat Buah Maja sebagai Pestisida Nabati untuk Hama Penggerek Buah Kakao

INFO TEKNOLOGI – Tanaman maja sebarannya luas di Indonesia. Buah maja mengandung saponin dan tannin yang mempunyai manfaat dalam pengendalian hama tanaman kakao yang ramah lingkungan dan ekonomis. Buah maja juga bepotensi digunakan sebagai pengendali hama tanaman perkebunan lainnya seperti Helopeltis pada tanaman kakao dan Hypothenemus hampei pada tanaman kopi.

Continue Reading

Pemanfaatan Limbah Cangkang Buah Kakao sebagai Pakan Konsentrat Ternak

INFO TEKNOLOGI – Cangkang buah kakao (Theobroma cacao L.) merupakan limbah pengolahan biji kakao yang keberadaannya sangat melimpah di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan negara produsen kakao ke-3 terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Komposisi buah kakao terdiri dari cangkang 74%, biji 24% dan plasenta 2%, sehingga dengan produksi biji kakao Indonesia pada tahun […]

Continue Reading

Vascular Streak Dieback (VSD) Penyakit Mematikan pada Tanaman Kakao

INFO TEKNOLOGI – Gejala serangan Vascular Streak Dieback (VSD) merupakan penyakit penting pada tanaman kakao. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Papua New Guinea pada tahun 1930-an. Kemudian menyebar ke negara Asia lainnya seperti India Selatan, Cina, Pulau Hainan, Burma, Thailand, Malaysia, Philipina, dan Indonesia. Di Indonesia penyakit ini pertama kali ditemukan di Pulau Sebatik […]

Continue Reading

Pengendalian Hama Utama Kakao dengan Pestisida Nabati dan Agens Hayati

INOVASI PERKEBUNAN – Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kakao di Indonesia adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Banyak jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao. Hama utama tanaman kakao di Indonesia antara lain penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) dan kepik pengisap buah (Helopeltis spp.).

Continue Reading

Hama Tanaman Rami: Ulat Penggulung Daun – Sylepta spp.

INOVASI PERKEBUNAN – Serangga herbivora dari ordo Lepidoptera selain ulat hitam rami Arcte coerulea (Infotek: vol.3, no.10, Oktober 2011) yang juga berpotensi sebagai hama rami adalah ulat penggulung daun Sylepta spp., yaitu : Sylepta derogate, Sylepta silicalis (sabinusalis), dan Sylepta. Aurantiacalis. Keberadaannya sebagai hama rami ada pada sepanjang musim tanam rami di negara-negara pengembang rami. […]

Continue Reading

Klon Kakao Unggul dan Teknik Pengelolaan Pertanaman

INOVASI PERKEBUNAN – Produktivitasnya tanaman kakao di NTT tergolong rendah, hanya 526 kg/ha, bahkan menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2009 hanya 228 kg/ha. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan kualitas bahan tanam yang rendah dan ┬ákondisi lahan yang marjinal. Curah hujan hanya sekitar 1200 mm dengan 6-8 bulan kering (curah hujan <60 mm per bulan) […]

Continue Reading