Bioetanol Jeli, Bahan Bakar Rumah Tangga Masa Depan

Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Salah satu Bahan Bakar Nabati (BBN) yang sangat prospektif dikembangkan di Indonesia adalah bioetanol, yang dapat diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat seperti jagung, ubi kayu, mollase tebu, sagu, ganyong, sorghum, buah semu jambu mete, aren, algae dan sejenisnya yang ketersediannya melimpah di Indonesia.

 

Selain dipergunakan untuk campuran bahan bakar bensin premium, bioetanol dapat juga dipergunakan untuk bahan bakar rumah tangga menggantikan minyak tanah (Robinson, 2006; Juliani, 2010; Laksitoresmi et al., 2011).

Namun penerapan bioetanol cair sebagai bahan bakar rumah tangga masih perlu diwaspadai, mengingat bioetanol cair memiliki sifat yang mudah menguap karena memiliki titik uap dan titik nyala yang rendah yaitu 14 °C. Uap bioetanol tersebut berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran apabila terpapar panas.

Pengalaman di Brazil sebagai negara dengan penggunaan bioetanol terbesar di dunia, menunjukkan bahwa bioetanol dalam bentuk cair merupakan penyebab utama kebakaran di negara tersebut. Oleh karena itu, bioetanol cair harus dimodifikasi menjadi bentuk jeli yang diharapkan lebih aman dalam proses pengangkutan maupun dalam penggunaannya.

Untuk membuat bioetanol jeli diperlukan gelling agent (pengental) berupa tepung seperti keragenan (polisakarida dari ekstraksi alga merah), kalsium asetat, xanthan gum ataupun carbopol EZ-3.

Pembuatan bioetanol jeli dapat dilakukan sebagai berikut: (1) aduk sebanyak 1-5% kalsium asetat yang berbentuk tepung dengan air sebanyak 20% dari jumlah bioetanol; (2) tambahkan 1 liter bioetanol berkadar 70-75% lalu diaduk; (3) tambahkan 5% natrium hidroksida sebagai penyeimbang pH agar tingkat kemasaman mencapai 5-6, kemudian daya aduk diperbesar minimal dengan kecepatan 2.500 rpm; (4) dalam waktu 5 menit bioetanol jeli sudah terbentuk.

Dengan bietanol berbentuk jeli, bagi ibu rumah tangga pekerjaan mengisi bahan bakar kompor menjadi lebih praktis, tak perlu khawatir lagi bahan bakar akan tumpah karena bentuknya padat. Di samping itu, bentuk kompor untuk bioetanol jeli sangat sederhana (Gambar).

Bentuknya mirip kompor konvensional karena pada kompor yang tidak bersumbu ini terdapat tempat meletakkan bioetanol jeli. Ketika bioetanol jeli dikompor habis, api akan padam; penambahan bioetanol jeli harus dilakukan saat api telah padam, peletakan maupun penambahan jeli dapat dilakukan dengan menggunakan sendok. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian bioetanol jeli lebih hemat daripada minyak tanah, daya bakar 200 g bioetanol jeli setara dengan daya bakar 1 liter minyak tanah.

Kompor bioetanol jeli (http://www.solex-un.net)

Afrika Selatan merupakan negara pertama yang telah menerapkan pemakaian bioetanol jeli secara meluas di masyarakatnya. Sejak tahun 2007 bioetanol jeli sudah akrab dipakai sebagai bahan bakar rumah tangga di sana, oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang berlimpah “agro raw material ” dengan berbagai ragam bahan baku bioetanol, sudah saatnya untuk mulai mengembangkan bioetanol jeli.

Dengan bentuk bioetanol jeli berikut bentuk kompor yang sederhana, diharapkan bioetanol dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga oleh masyarakat luas, menggantikan minyak tanah yang keberadaannya semakin langka dan mahal. (Juniaty towaha/Peneliti Balittri).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *