Bio Industri Atasi Rendahnya Produktivitas Pertanian

Berita Media

BERITA MEDIA – Bio industri diharapkan mampu memberikan jalan keluar bagi Indonesia sebagai negara yang masuk dalam jebakan. Dari hasil kajian Bank Dunia, ternyata Indonesia termasuk dalam negara yang beresiko masuk jebakan, karena produktivitas pertaniannya masih rendah.

Ada yang menarik dalam seminar internasional bertema “Avoiding the Middle Income Trap: Lesson Learn and Strategies for Indonesia to Growth Equitably and Sustainably.” Seminar tersebut mengupas mengenai jebakan sebagai negara dengan income menengah dan sangat sulit meningkat menjadi negara berpendapatan tinggi.

Kajian Bank Dunia, dari 101 negara berpendapatan menengah pada tahun 1960, ternyata hanya 13 negara yang berhasil naik peringkat menjadi negara berpendapatan tinggi. Standar Bank Dunia, negara yang berpendapatan rendah (lower middle income) adalah yang income per kapitanya antara 2.000-7.250 dolar AS. Sedangkan negara berpendapatan menengah (upper middle income) dengan income per kapita 7.250-11.750 dolar AS. Sementara negara berpendapatan tinggi (high income countries) dengan income per kapita di atas 11.750 dolar AS.

Siapa yang masuk dalam jebakan? Bank Dunia mengategorikan adalah negara yang selama 28 tahun tidak beranjak dari lower middle income. Indonesia pada tahun 1990 sudah masuk dalam lower middle income. Pada tahun 2010, income per kapita Indonesia masih sekitar 4.790 dolar AS. Dengan waktu yang tersisa, jika Indonesia akan ke luar dari negara yang masuk dalam jebakan, maka harus mampu meningkatkan income menjadi 7.250 dolar AS.

Mendongkrak pendapatan yang sangat tinggi bukanlah persoalan mudah. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Haryono, kondisi tersebut menjadikan Indonesia berada dalam resiko sebagai negara yang masuk dalam jebakan. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya produktivitas tenaga kerja pertanian dan tidak berjalannya transformasi ekonomi.

“Tanda-tandanya, terjadi perpindahan tenaga kerja dari pertanian ke sektor informal dengan produktivitas yang rendah juga,” katanya dalam sambutan Pengukuhan Tiga Professor Riset Kementerian Pertanian di Bogor, Selasa (31/12) lalu. Tiga professor tersebut yakni, Yusdar Hilman, Budi Marwoto dan Sri Widowati.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) telah menunjukkan, jumlah rumah tangga pertanian menurun hampir 15 juta rumah tangga. Tapi pada sisi lain penyerapan tenaga kerja pertanian meningkat dari 93 juta jiwa pada tahun 2004 menjadi 110,8 juta jiwa pada 2012. Artinya, adanya perpindahan dari kepemilikan usaha menjadi buruh di sektor pertanian.

Sumber: Sinar Tani Edisi 13 Januari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *