Beberapa Produk Perkebunan Ramaikan Pasar Agroinovasi

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Badan Litbang Pertanian mengadakan “Pasar Agroinovasi ” di BPATP, Jalan Salak, Bogor pada tanggal 27/10/2013. Beberapa hasil inovasi perkebunan ikut meramaikan kegiatan tersebut antara lain bursa benih tanaman obat (lada, sirih merah, rosmeri, pala, cengkeh, vanili). Produk herbal “Healtro” (secang fit, androcap sambiloto, asiaticap, cakar ayam, ceplukan, daun sirsak, daun ungu, jati belanda, keladi tikus, kunyit, meniran, purwoceng, rumput mutiara, sirih merah, sup pegagan, temulawak, temu putih).

Pasar agroinovasi dibuka oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono yang dalam sambutannya mengatakan bahwa ini sebuah upaya sangat penting, pangan dan pertanian tidak akan pernah hilang, selalu dibutuhkan dimana manusia berada. Kedepan jumlah penduduk dunia berkembang dan semuanya membutuhkan pangan. UU No. 18 tahun 2012 tentang pangan yang mengamanatkan pentingnya menyediakan pangan dalam jumlah yang berlimpah, cukup dan diberi tambahan yang berkualitas sehat. Untuk mencapai dari awal pengelolaan lahan, sistem produksi, pengolahan pangan, yang memerlukan penelitian yang berkualitas.

Agroinovasi menjadi bagian untuk menjamin dari hulu ke hilir sampai menghasilkan pangan yang sehat dan berkualitas. Bahwa ini merupakan moment untuk membangkitkan pasar agroinovasi dan BPATP menjadi simbol dimana setiap saat harus mampu menyediakan produk-produk berkualitas, agroinovasi yang bisa dibeli oleh masyarakat luas. Mestinya pasar agroinovasi itu adalah pasar yang “network”nya di seluruh Indonesia. Jadi pasar agroinovasi harus ada di semua BPTP dari Sabang sampai Merauke. Juga boleh ada di Balai-Balai Penelitian walaupun bentuk/segmen-nya agak berbeda. BPTP di setiap Provinsi segmen-nya lebih luas, pasarnya juga lebih luas, imbuh Kabadan.

Balai Penelitian mungkin sebagian sebagai display bahwa hasil penelitian itu harus bermuara kepada produk. Pada beberapa kesempatan Ka Badan juga sudah menginstruksikan kepada Sekretaris Badan dan para Kepala Pusat agar pasar agroinovasi digalakkan/dikembangkan di semua BPTP di seluruh Indonesia.

Agar pasar agroinovasi tetap berjalan dengan baik, jangan mengelola pasar ini berbasis APBN, tapi berbasis produk. Jangan berbasis “proses”, tapi berbasis “output”. Jadi di pasar itu menghasilkan output, output menghasilkan PNBP, termasuk komersial (ada royalti, keuntunga, dsb). Itu adalah kunci agar tidak timbul tenggelam, dikelola secara profesional dan tidak semata-mata dari APBN, harus “product oriented”.

Ada Permentan baru no. 67 tahun 2013, dimana merupakan berkah bagi para peneliti, permentan tersebut mengatur royalti, lembaga dan peneliti boleh menerima royalti, artinya bahwa tidak berdasarkan APBN, tetapi berdasarkan hasil produk-produk pertanian yang dijual.

Di akhir sambutannya Kabadan berharap sinergi dengan para pengguna teknologi, para mitra termasuk binaan-binaan, Pemda. BPATP agar mengkoordinir seluruh Balai-balai, tidak hanya BPTP, dalam rangka mengalihkan hasil-hasil teknologi yang telah dihasilkan.

 

 

 

Berita terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *