Bea Masuk Tidak Mempengaruhi Ekspor Kopi

Artikel Kopi Berita Media

Kompas, 1 Mei 2012. Meski diganjal dengan penerapan bea masuk sebesar 20-30 persen, ekspor kopi ke Afrika Selatan tidak terganggu. Kopi produksi Indonesia masih sangat dibutuhkan kalangan industri di negara tersebut sebagai bahan campuran. Secara keseluruhan ekspor kopi tahun ini diprediksi turun karena gangguan produksi.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami di Jakarta, Senin (30/4), mengatakan, penerapan bea masuk diterapkan Afrika Selatan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Lewat bea masuk, pemerintah setempat mencoba membatasi masuknya produk impor.

“Itu wajar di lakukan karena tingkat pengangguran di Afrika Selatan masih sangat tinggi, yakni 27 persen. Dengan bea masuk perintah mendorong industri dalam negri memproduksi Kopi sendiri.” Namun, Kopi asal Indonesia tetap mereka butuhkan sebagai bahan campuran. Jadi bea masuk tidak terdampak banyak,” menurut Gusmadi. Asosiasi Eksportir dan industri kopi Indonesia (Aeki) memproyeksikan tahun ini produksi kopi di perkirakan turun menjadi 6000.000 ton. Hal tersebut akan terdampak pada realisasi ekspor kopi.

“Cuaca ekstrim menjadi salah satu penyebab penurunan produksi kopi. Kondisi itu harus di sikapi bersama. Kalau tidak ekspor kopi akan terus turun ,” menurut ketua Aeki Suyanto.

Tahun 2010, total produksi kopi Indonesia tercatat 684.076 ton. Tahun 2011 produksi kopi tercatat 633.900 ton, atau turun sekitar 7 persen di bandingkan produksi 2010 ekspor kopi tercatat 352.007 ton atau turun 21 persen di bandingkan tahun 2010. Dibandingkan tahun 2009, ekspor kopi tahun 2010 juga tercatat menurun 11,4 persen. Tahun 2009 menjadi puncak ekspor kopi Indonesia selama satu dekade terakhir, dengan volume ekspor 505.381 ton.

Peremajaan kebun kopi

Sebelumnya, Direktur Jendral perkebunan kementrian Pertanian Gamar Nasir mengatakan, pemerintah telah berupaya meremajakan kebun kopi untuk meningkatkan produksi kopi nasional. Saat ini, dari total luas perkebunan kopi sebesar 1,25 juta hektar, sebanyak 60 persen telah berumur di atas 25 tahun.

Sejauh ini pemerintah belum menerapkan ke tentuan bea keluar untuk komoditas kopi. Untuk menerapkan ketentuan tersebut di perlukan kajian mendalam. Hal itu karena karakter kopi berbeda dengan kakao dan sawit yang sudah terlebih dulu di kenai bea keluar. (ENY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *