Balitbangtan Berkontribusi dalam Penerapan IPM pada Komoditi Kelapa di Fiji

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Sebagai tindak lanjut dari MoU on Agricultural Cooperation antara Kementan RI dan Fiji pada pada tanggal 9 Agustus 2017, peneliti Balitbangtan Ir. Jelfina C. Alouw, Ph.D. diundang sebagai nara sumber dalam bimbingan teknis (bimtek) pengembangan Integrated Pest Management pada Komoditi kelapa di Fiji. Bimtek dilakukan di Taveuni Research Station dan Koronivia Research Station pada tanggal 26, 27 dan 30 Oktober 2017.

Produk kelapa di Fiji sangat variatif. Banyak industri kelapa yang kekurangan bahan baku, antara lain di Wainiyaku Ltd yang memproduksi VCO organic dan non-organic serta produk turunannya untuk dieksport ke beberapa Negara di Amerika, Eropa dan Asia. 2-3 ton VCO dihasilkan per minggu dengan mesin yang lama, dan 5 ton VCO per hari dengan menggunakan mesin yang baru. Sayangnya perusahaan milik keluarga ini kekurangan bahan baku buah kelapa akibat serangan hama dan penyakit. Petani umumnya melakukan Integrasi antara kelapa dan ternak (sapi, domba dan kambing).

Hasil identifikasi di lapangan terhadap gejala kerusakan yang ditimbulkan dan sampel hama, terdapat dua hama utama yang menyerang yakni hama Oryctes rhinoceros, dan stick insect (Graeffea crouanii). Rekomendasi pengendalian terhadap hama Oryctes sudah disampaikan dengan mempertimbangkan bioekologi hama dan kondisi lingkungan yakni mengintegrasikan sanitasi, pemanfaatan kotoran ternak yang merupakan media perkembangbiakan hama untuk menjadi biogas dan biofertilizer, pemusnahan batang-batang kelapa mati, pemanfaatan bioinsektisida dan feromon agregasi serta pemanfaatan tanaman penutup dengan jenis tanaman penutup tanah yang sudah dikembangkan oleh research station sebagai agens hayati gulma.

Petani/masyarakat dan pemerintah perlu bekerjasama untuk meminimalisir ketersediaan tempat perkembangbiakan hama di lapangan. Pengujian feromon yang diproduksi di Indonesia dan Costa Rica langsung dilakukan oleh kedua Research Stations. Survival rate dari parasitoid yang menyerang G. crouanii perlu ditingkatkan dengan penanaman tanaman berbunga penghasil nectar disekeliling kebun dan penggunaan sticky strips dibatang kelapa.

 

Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) sebagai unit pelaksana teknis Balitbangtan, Kementan, tidak hanya membantu petani dan masyarakat di negara sendiri tapi juga berperan membantu yg membutuhkan seperti Fiji. Masalah hama dan penyakit di Fiji dan rekomendasi pengendaliannya kemudian disampaikan pada the 18th Cogent Steering Committee meeting di Nadi pada tgl 31 Oktober 2017. Cogent adalah organisasi internasional yang menangani sumberdaya genetik kelapa dan bertujuan untuk memperkuat kerjasama internasional dalam hal konservasi dan pemanfaatan sumberdaya genetik kelapa, mendorong peningkatan produksi secara berkelanjutan dan meningkatkan pendapatan petani kelapa di negara-negara sedang berkembang.

Kepala Balit Palma, Dr. Ismail Maskromo, juga hadir pada Cogent meeting dan menyampaikan laporan perkembangan konservasi plasma nutfah kelapa dan pemanfaatannya di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *