Analisa Usahatani Budi Daya Tebu Intensif

Artikel Tebu Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Peningkatan produktivitas tebu akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani dan juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi p etani dalam berusahatani tebu. Studi kasus di lahan tebu tegalan di Desa Lambur, Kecamatan Mrebet, Kab. Purbalingga bertujuan mengetahui pengaruh budi daya intensif, semi intensif dan non-intensif terhadap nilai usahatani tebu.

Hasil studi menunjukkan bahwa budidaya tebu intensif melalui penggunaan pupuk organik lima ton per ha, pengairan yang memadai dan sistem tanam overlapping, dan klenthekan yang memadai, mampu menghasilkan produktivitas tebu varietas Bululawang rerata 150 ton tebu per ha, dan pada tingkat rendemen 7,16% pendapatan bersih petani adalah sebesar Rp. 32,38 juta per ha. Sementara areal pertanaman tebu dengan perlakuan budi daya semi intensif (budi daya intensif tanpa pupuk organik) mampu menghasilkan 100 ton tebu per ha, dan pada tingkat rendemen yang sama menghasilkan pendapatan bersih Rp. 16,45 juta. Sedangkan areal tebu dengan budidaya non intensif (tanpa pupuk organik , tanpa pengairan dan sistem tanam end to end) pada rendemen yang sama hanya mampu menghasilkan produktivitas 45–75 ton per ha. Perlakuan terakhir ini juga menunjukkan bahwa pemberian pupuk anorganik yang memadai tanpa pupuk organik tidak menghasilkan produktivitas yang optimum. Pada tingkat produktivitas tebu 45 ton per ha, petani akan mengalami kerugian sebesar Rp. 2,78 juta per ha. B/C ratio untuk usahatani intensif, semi intensif, non-intensif dengan bantuan program ekstensifikasi dan non-intensif perlakuan petani umumnya, masing-masing berturut 1,68; 1,44; 1,25; dan 0,89.

Untuk mengimplementasikan pemanfaatan pupuk organik pada pertanaman tebu disarankan kelompok petani tebu yang lokasinya jauh dari pabrik gula (PG) dapat mengembangkan model pengembangan tebu ternak, agar pupuk organik dapat selalu tersedia di dekat areal pengembangan. Sedangkan kelompok tani tebu di sekitar PG, diharapkan membangun kerjasama dengan PG untuk  dapat memanfaatkan blotong sisa penggilingan sebagai bahan baku pupuk organik. (/Muhammad Syakir, Deciyanto Soetopo, dan Sabarman Damanik/Peneliti Puslitbang Perkebunan)

Sumber : Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri Volume 5 No.2 Oktober 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *