Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Rokok Kretek

INFO PERKEBUNAN – Cengkeh merupakan produk rempah yang dipergunakan sebagai salah satu  bahan baku industri rokok kretek, farmasi, kosmetik, dan rempah-rempah. Industri rokok kretek merupakan pengguna terbesar (80-90%), sedang sisanya untuk penggunaan lainnya. Dengan demikian perkembangan kebutuhan cengkeh ditentukan oleh perkembangan jumlah produksi rokok kretek. Mengingat hingga saat ini produksi rokok kretek selalu meningkat, maka kebutuhan cengkeh pun mengikutinya.

Produksi Rokok Kretek

Perkembangan produksi rokok kretek ditentukan oleh perkembangan jumlah perokok. Dalam dasawarsa terakhir walaupun kampanye anti rokok sangat gencar dilaksanakan, jumlah perokok diperkirakan tetap bertambah, meski pertumbuhannya agak berkurang.

Hal ini menunjukkan bahwa walaupun ada sejumlah perokok yang berhenti, tetapi jumlah perokok baru lebih banyak. Logikanya pertambahan perokok baru lebih banyak berasal dari kalangan penduduk berusia muda. Diperkirakan jumlah perokok di Indonesia sekitar 22-28% dari penduduk atau sekitar 53-68 juta perokok dengan konsumsi per kapita 3.600-4.700 batang per tahun.

Produksi rokok kretek nasional setiap tahun meningkat dengan laju rata-rata 4.2% dalam lima tahun terakhir (2007-2011). Peningkatan produksi ini disertai dengan  perubahan komposisi produk rokok kretek.

Secara umum saat ini paling tidak ada tiga kategori produk rokok kretek yang secara luas beredar di pasar, yaitu sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), dan SKM ringan (mild).

Sebelumnya terdapat produk lain seperti rokok klobot tetapi kini hanya beredar di pasar yang sangat terbatas. Fenomena pergeseran komposisi produksi terjadi sejak kira-kira 40 tahun lalu, dari rokok klobot menjadi SKT, dari SKT menjadi SKM, dan sejak sepuluh tahun terakhir bergeser dari SKM menjadi mild.

Pergeseran komposisi produksi rokok kretek mencer-minkan juga perubahan selera konsumen, yang mana semakin banyak konsumen yang memilih rokok kretek yang lebih ringan. Hal ini terjadi kemungkinan karena kampanye efek negatif tembakau yang gencar, sehingga konsumen memilih rokok kretek ringan dengan harapan agar efek negatifnya minimum.

Akibat dari fenomena ini adalah konsumen merasa lebih aman dengan mengkonsumsi rokok yang lebih ringan, pada gilirannya rokok ringan ini  menjadi pintu masuk bagi para perokok baru terutama kalangan muda bahkan juga wanita. Diperkirakan pergeseran konsumsi pada rokok kretek yang lebih cenderung berakibat meningkatnya jumlah batang rokok yang dikonsumsi per kapita.

Pertumbuhan produksi rokok kretek dalam tiga tahun kedepan diperkirakan masih berkisar pada 4.1%, sedikit lebih rendah dari pertumbuhan pada periode sebelumnya, karena diperkirakan pertumbuhan jumlah perokok sedikit turun karena kampanye anti rokok berdampak pada berhentinya perokok lama terutama yang telah berusia lebih dari 50 tahun.

Selain itu Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa keharaman rokok, sehingga kesadaran untuk tidak merokok pada golongan umur tersebut diperkirakan akan semakin meningkat. Produksi rokok kretek diperkirakan akan menembus lebih dar 300 milyar batang pada tahun 2014.

 

Kebutuhan Cengkeh

Kebutuhan cengkeh untuk industri rokok kretek dapat diturunkan dari produksi rokok kretek yang dikonversi dengan kebutuhan cengkeh per batang rokok kretek. Kebutuhan cengkeh untuk setiap jenis produk rokok kretek berbeda-beda dan tentu antar merek juga bervariasi.

Selama ini SKT, SKM dan mild masing-masing membutuhkan cengkeh berturut-turut sekitar 0,70 g, 0,40 g, dan 0,25 g per batang rokok. Jika menggunakan rata-rata tertimbang 2011 maka kebutuhan cengkeh menjadi 0,416 g sedikit turun dari tahun sebelumnya 0,418 g per batang.

Penurunan kebutuhan cengkeh per batang rokok kretek ini terjadi karena pergeseran struktur atau komposisi konsumsi rokok kretek yang terus terjadi akibat perubahan selera konsumen yang makin banyak yang memilih rokok kretek yang lebih ringan, akibatnya terjadi juga pergeseran komposisi produksi rokok kretek yang mana SKM dan mild semakin mendominasi.

Kecenderungan ini diperkirakan akan terus berlanjut sehingga kebutuhan cengkeh rata-rata tertimbang pada tahun 2015 bisa hanya mencapai 0,30 g per batang.

Kebutuhan cengkeh secara total masih akan terus meningkat karena produksi rokok kretek juga bertambah terus, walaupun kebutuhan per batangnya turun. Pada tahun 2012, kebutuhan cengkeh sudah lebih dari 120 ribu ton dan tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 2015 diperkirakan sudah menembus 130 ribu ton.

Perkiraan kebutuhan cengkeh selama ini selalu jauh lebih tinggi 10-30 ribu ton daripada produksi cengkeh nasional, kemungkinan karena data produksi terlalu rendah (underestimate). Memang perusahaan rokok kretek menyimpan cengkeh sebagai stok untuk memenuhi kebutuhan tahun berikutnya, tetapi hal ini hanya bisa terjadi jika defisit kebutuhan cengkeh dalam satu sampai dua tahun, tidak secara terus menerus.

Penutup

Industri rokok kretek merupakan industri asli Indonesia yang berkembang secara terus-menerus dan sebagian besar menggunakan sumberdaya dalam negeri. Cengkeh merupakan bahan baku utama yang dalam lima tahun terakhir cenderung tidak dapat dipenuhi kebutuhannya, sehingga harga cengkeh meningkat tajam. Perkiraan kebutuhan cengkeh ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong produksi cengkeh nasional (Agus Wahyudi/Peneliti Balittro).

Sumber : Infotek Perkebunan Volume 4, Nomor 11, Desember 2012